Indeks

Video Viral Demo PETI, Gubernur Anwar Hafid Buka Suara

Anwar Hafid menegaskan bahwa persoalan yang terjadi saat demonstrasi sebenarnya telah diselesaikan secara langsung di lapangan

Video Viral Demo PETI, Gubernur Anwar Hafid Buka Suara
Gubernur Dr. Anwar Hafid saat mengulurkan tangan untuk bersalaman kepada salah seorang massa aksi/Rajawalinet

PALU, Rajawalinet.co – Polemik yang muncul pasca beredarnya potongan video aksi demonstrasi penolakan Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Kabupaten Tolitoli akhirnya mendapat tanggapan langsung dari Gubernur Sulawesi Tengah, Dr. Anwar Hafid.

Video berdurasi 1 menit 29 detik yang viral di berbagai platform media sosial itu memicu beragam persepsi publik. Dalam potongan rekaman tersebut terdengar ucapan, “jabat tangan dulu de, kalau tidak kita pulang”, yang kemudian ditafsirkan sebagian pihak sebagai bentuk tekanan kepada massa aksi yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Tolitoli.

Sehari setelah aksi yang berlangsung pada Kamis (4/6/2026) itu berakhir ricuh, muncul desakan agar Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid dan Bupati Tolitoli Amran Yahya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada publik.

Menanggapi hal tersebut, Anwar Hafid menegaskan bahwa persoalan yang terjadi saat demonstrasi sebenarnya telah diselesaikan secara langsung di lapangan.

Saat dikonfirmasi Rajawalinet.co melalui pesan WhatsApp, Sabtu (6/6/2026), Anwar mengatakan sejumlah pimpinan aksi telah menemuinya sebelum dirinya meninggalkan Kabupaten Tolitoli menuju Kota Palu.

“Sebelum meninggalkan Tolitoli, beberapa pimpinan demo sudah menemui saya. Mereka meminta maaf, dan saya pun juga menyampaikan permintaan maaf. Selesai. Apalagi yang mau dimasalahkan?” ujar Anwar.

Menurut Anwar, konteks yang terekam dalam video tidak menggambarkan keseluruhan peristiwa yang terjadi saat itu. Ia menjelaskan bahwa dirinya justru berinisiatif mendatangi massa aksi dan mengulurkan tangan sebagai bentuk penghormatan serta upaya membangun komunikasi yang baik.

“Saya mendatangi pendemo dan mengulurkan tangan dua kali untuk berjabat tangan, tapi yang pakai baju HMI tidak mau menerima jabat tangan saya. Jadi saya bilang, kalau begitu saya pulang, tidak usah juga dengar tuntutanmu,” jelasnya.

Ia membantah anggapan bahwa dirinya melakukan pemaksaan terhadap mahasiswa yang berunjuk rasa. Menurutnya, pernyataan yang disampaikan saat itu merupakan respons spontan setelah uluran tangannya tidak mendapat sambutan.

Anwar juga mengajak masyarakat untuk melihat rekaman video secara utuh agar memperoleh gambaran yang lebih lengkap mengenai situasi di lokasi aksi.

“Tidak ada saya paksakan. Saya mengulurkan tangan tulus ikhlas, bisa dilihat di rekaman. Karena tidak diterima, saya bilang kalau begitu saya juga tidak mau mendengar tuntutanmu, karena menurut saya tidak ada attitude alias etika sama sekali,” tegasnya.

Peristiwa tersebut menjadi perhatian publik karena terjadi di tengah menguatnya tuntutan mahasiswa terkait penanganan aktivitas PETI yang dinilai berdampak terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi terbaru dari HMI Cabang Tolitoli terkait klarifikasi yang disampaikan Gubernur Sulawesi Tengah. Namun, berdasarkan penjelasan Anwar Hafid, komunikasi antara kedua belah pihak telah dilakukan dan persoalan tersebut diklaim telah diselesaikan secara kekeluargaan.

Meski demikian, peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya menjaga ruang dialog yang terbuka antara pemerintah dan kelompok masyarakat sipil, khususnya mahasiswa, agar penyampaian aspirasi publik dapat berlangsung dalam suasana saling menghormati dan tetap menjunjung etika demokrasi.

error: Content is protected !!
Exit mobile version