Indeks

DLH Palu Ajak Aksi Kolektif Tangani Sampah Mangrove Dupa

Sekretaris DLH Kota Palu, Ibnu Mundzir, menilai pembersihan yang berlangsung selama dua hari belum mampu memberi dampak berarti karena volume sampah yang terus masuk ke Teluk Palu sangat besar.

DLH Palu Ajak Aksi Kolektif Tangani Sampah Mangrove Dupa
Kondisi tumpukan sampah di kawasan konservasi mangrove Dupa/Sumber: Istimewa

PALU, Rajawalinet.co – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Palu mendorong aksi bersama lintas pihak untuk menangani tumpukan sampah di kawasan mangrove Dupa, Kelurahan Layana. Sekretaris DLH Kota Palu, Ibnu Mundzir, menilai pembersihan yang berlangsung selama dua hari belum mampu memberi dampak berarti karena volume sampah yang terus masuk ke Teluk Palu sangat besar.

“Di hari pertama kami mengangkat hampir 80 kantong sampah atau sekitar empat ton. Hari kedua sekitar 60 kantong. Tapi kondisi kawasan belum banyak berubah karena sampah yang datang jauh lebih banyak,” ujar Ibnu Mundzir saat dihubungi melalui WhatsApp, Minggu (25/1/2026).

Ia menjelaskan, sampah plastik menyebar hampir di area seluas lima hektare mangrove. Arus barat yang membawa sampah ke Teluk Palu serta keberadaan 11 sungai yang bermuara langsung ke teluk memperparah kondisi tersebut.

“Ini menjadi tanda bahwa pengelolaan sampah di darat belum tuntas. Sampah yang masuk ke teluk tidak hanya berasal dari Palu, tapi juga dari daerah lain yang terbawa aliran sungai,” katanya.

Ibnu menegaskan, persoalan sampah di Teluk Palu tidak bisa ditangani secara parsial. Menurutnya, pemerintah kota membutuhkan kolaborasi pemerintah provinsi, instansi pengelola sungai, aparat, komunitas, hingga masyarakat.

“Penanganannya tidak bisa hanya dibebankan ke Kota Palu. Kita harus berbagi peran dan bergerak bersama,” tegasnya.

Ia juga menyampaikan bahwa aksi pembersihan mangrove bermula dari inisiatif komunitas yang menggalang gerakan melalui media sosial. DLH kemudian merespons ajakan tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap kepedulian warga.

“Ini bukan soal siapa yang memulai. Yang penting siapa yang mau terlibat dan peduli,” ujarnya.

Ibnu menambahkan, penggunaan alat berat tidak memungkinkan dilakukan di kawasan mangrove karena berisiko merusak tanaman. Oleh karena itu, pembersihan hanya bisa dilakukan secara manual dengan melibatkan banyak tenaga.

“Kerja manual membutuhkan sumber daya manusia yang besar. Karena itu, kami rencanakan kampanye dan kerja bakti massal,” ucapnya.

DLH Kota Palu berencana menggelar aksi lanjutan pada Jumat atau Sabtu, menyesuaikan dengan kondisi air laut yang mulai surut. Kegiatan tersebut akan dirangkaikan dengan pra-peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN).

“Kami akan melibatkan padat karya, TNI, OPD, komunitas pencinta alam, dan masyarakat untuk membersihkan beranda depan kita, yaitu Teluk Palu,” jelas Ibnu.

Ia juga mengungkapkan bahwa hasil penelusuran sementara menunjukkan sebagian sampah yang ditemukan berasal dari luar daerah, bahkan luar negeri.

“Kami menemukan kemasan sampah dari Cina, Thailand, dan beberapa negara lain yang terbawa arus laut,” ungkapnya.

Di akhir, Ibnu mengapresiasi keterlibatan komunitas dan anak muda dalam aksi pembersihan mangrove tersebut.

“Kami sangat menghargai kepedulian komunitas. Kota Palu adalah milik kita bersama, dan persoalan sampah adalah masalah bersama yang harus kita tangani secara serius,” pungkasnya.

error: Content is protected !!
Exit mobile version