PALU, Rajawalinet.co – Pertemuan antara tim Poboya dan pihak PT Citra Palu Minerals (CPM) bersama Bumi Resources Minerals (BRMS) di Jakarta berakhir tanpa hasil. Tim Poboya menyebut pertemuan tersebut sia-sia karena perusahaan tidak menghadirkan pihak yang memiliki kewenangan mengambil keputusan.
Sekretaris Pokja Pertambangan Poboya sekaligus Koordinator Rakyat Lingkar Tambang Poboya, Kusnadi, menegaskan pertemuan di Kantor BRMS kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, tidak menghasilkan kesepakatan apa pun.
“Tidak ada hasil. Karena CPM/BRMS tidak menghadirkan pengambil keputusan sehingga rapat maupun pertemuan untuk menggagas kemitraan dianggap percuma oleh koordinator tim Poboya,” ujar Kusnadi, Jumat (20/2/2026).
Ia menjelaskan, sehari sebelumnya kedua pihak sempat menggelar pertemuan awal untuk membahas skema kemitraan. Namun tim Poboya meminta komitmen tertulis terkait penciutan wilayah pertambangan rakyat (WPR) di Poboya sebelum melangkah lebih jauh.
“Kemarin sudah diadakan pertemuan awal. Tapi tim Poboya di atas kertas ingin dulu keputusan atau kesepakatan bersama soal komitmen penciutan agar menjadi pegangan untuk sama-sama mengawal penciutan untuk WPR di Poboya,” katanya.
Menurut Kusnadi, perwakilan CPM-BRMS saat itu, Sudarto, menyatakan dirinya bukan pengambil keputusan dan hanya akan menyampaikan usulan tersebut kepada atasan. Pernyataan itu memicu kekecewaan di pihak Poboya.
“Lagi-lagi dari tim CPM-BRMS berjanji akan menyampaikan masukan tersebut ke atasan karena dia bukan pengambil keputusan. Nah, statement inilah yang membuat tim Poboya kecewa,” tegasnya.
Kekecewaan itu berujung pada pembatalan pertemuan lanjutan yang semula dijadwalkan berlangsung pada Jumat (20/2/2026). Tim Poboya menilai pertemuan lanjutan tidak akan efektif jika perusahaan tetap tidak menghadirkan pihak yang berwenang mengambil keputusan strategis.
Selain soal kemitraan dan penciutan, pembahasan mengenai pencabutan laporan juga belum menemui titik terang. Semua poin pembicaraan, kata Kusnadi, mentok di tengah jalan.
“Soal pencabutan laporan juga belum ada kepastian, karena semua poin pembicaraan baik kemitraan dari CPM dan penciutan dari tim Poboya deadlock. Sehingga agenda ke tuntutan lain juga ikut deadlock,” jelasnya.
Ia menegaskan pertemuan di Jakarta berakhir tanpa kesepakatan apa pun.
“Intinya pertemuan Jakarta tidak membuahkan hasil alias tangan hampa, kosong,” pungkas Kusnadi.
Pertemuan ini sebelumnya telah dijadwalkan melalui surat CPM bernomor 062/CPM/LGL/II/2026 yang berisikan undangan kepada Ketua Lembaga Adat Poboya untuk melakukan musyawarah terkait kemitraan bagi peningkatan ekonomi masyarakat lingkar tambang.
