PARIGI MOUTONG, Rajawalinet.co – Setelah melalui perjalanan panjang selama tiga dekade, pembangunan Gedung Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) Jemaat Siloam Desa Silutung, Kecamatan Tinombo Selatan, Kabupaten Parigi Moutong, akhirnya mencapai puncaknya.
Momen bersejarah tersebut ditandai dengan pentahbisan dan peresmian gedung gereja oleh Bupati Parigi Moutong, H. Erwin Burase, S.Kom., Jumat (30/10/2026).
Peresmian ini bukan sekadar menandai selesainya pembangunan fisik rumah ibadah, tetapi juga menjadi bukti ketekunan, pengorbanan, dan kuatnya semangat kebersamaan jemaat dalam mempertahankan perjuangan selama puluhan tahun.
Dalam sambutannya, Bupati Erwin Burase menyampaikan apresiasi kepada seluruh jemaat, panitia pembangunan, pimpinan gereja, para donatur, serta masyarakat yang telah berkontribusi hingga pembangunan gereja tersebut dapat diselesaikan.
Menurutnya, keberadaan gereja memiliki makna lebih luas daripada sekadar tempat melaksanakan ibadah. Gereja juga menjadi ruang pembinaan iman, pembentukan karakter, penguatan persaudaraan, serta penanaman nilai kasih, kejujuran, kedamaian, dan kepedulian sosial.
Ia berharap Gedung GKST Siloam dapat dimanfaatkan dan dipelihara dengan baik serta menjadi pusat pertumbuhan iman yang memberikan dampak positif bagi kehidupan keluarga, jemaat, dan masyarakat sekitar.
Erwin juga menegaskan pentingnya menjaga kerukunan di tengah keberagaman masyarakat Parigi Moutong yang terdiri atas berbagai suku, agama, budaya, dan adat istiadat.
Menurutnya, perbedaan keyakinan tidak boleh menjadi penghalang untuk membangun kerja sama dan persaudaraan. Pemerintah daerah, kata dia, berkomitmen terus mendorong kehidupan masyarakat yang rukun, damai, dan saling menghormati.
Sementara itu, Sekretaris Umum Majelis Sinode GKST, Pdt. Jetroson Rense, M.Th., menyampaikan kebanggaan atas rampungnya pembangunan gereja tersebut. Ia mengapresiasi perjuangan jemaat serta dukungan berbagai pihak, termasuk kehadiran Bupati Parigi Moutong dalam peresmian tersebut. Ia juga menyoroti kehidupan masyarakat Silutung yang mampu menjaga kebersamaan dan toleransi antarumat beragama.
Dalam laporan panitia, Ketua Panitia Benyamin Baad mengungkapkan bahwa pembangunan gedung gereja membutuhkan waktu sekitar 30 tahun.
Peletakan batu pertama dilakukan pada 1996 oleh Pdt. Augustin M. Babao, S.Th., sebelum akhirnya pembangunan dinyatakan rampung pada 2026. Benyamin menjelaskan, sejarah jemaat ini bermula pada 1976 sebagai gereja Oikumene yang anggotanya berasal dari berbagai denominasi Kristen, termasuk para perantau yang bekerja di perusahaan kayu eboni Sumber Alam.
Sekitar 1982, jemaat tersebut kemudian menjadi bagian dari GKST dan diberi nama GKST Siloam oleh pendeta klasik saat itu, Pdt. Rumandjo.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan pengguntingan selubung papan nama gereja, penandatanganan prasasti, serta pengguntingan pita sebagai tanda resmi dibukanya gedung gereja.
Peresmian tersebut turut dihadiri jajaran pejabat Pemkab Parigi Moutong diantaranya Kadis PMD Ervian Aksa Yosa,S.STP.M.Si dan Kadis PUPR Muhammad Aflianto Hamsah,ST.MM, Tenaga Ahli Sadri Djupanda, unsur Muspika Tinombo Selatan di antaranya Plt.Camat Agus Salim,S.Sos.MAP, Sekcam Adnan Abdullah, S.Sos, Kapolsubsektor yang diwakili Babinkantibmas Agus Tinus, Danramil yang diwakili Babinsa, Majelis Sinode GKST, Majelis Klasis Parigi Utara, para pendeta lintas denominasi, hadir pula sejumlah kades diantaranya kades silutung Adnan Usulin, kades tada Hamka,S.Pd, kades siney Fahmi, kades Sigenti Ratna, tokoh agama, tokoh adat, serta masyarakat setempat.
Tiga dekade perjuangan akhirnya terbayar. Kini, GKST Siloam Silutung diharapkan tidak hanya menjadi tempat beribadah, tetapi juga menjadi simbol persatuan, kasih, dan kerukunan di tengah keberagaman masyarakat.
