Jangan Sampai Tradisi Hilang, Empat Suku di Parimo Dibukukan

Buku ini Membuka Jejak Kehidupan, Empat Suku Asli Parimo

Jangan Sampai Tradisi Hilang, Empat Suku di Parimo Dibukukan
Foto : Bersama Staf Ahli Bidang Pemerintahan Hukum dan Politik Agus Salim,S.Sos Saat Membuka Kegiatan Bedah Buku/ Ist

PARIGI MOUTONG, Rajawalinet.co – Di tengah derasnya perubahan zaman, sebuah buku hadir untuk menjaga agar cerita tentang tradisi dan kehidupan masyarakat Parigi Moutong tidak berhenti sebagai ingatan generasi tua.

Buku berjudul “Daur Hidup Masyarakat Kabupaten Parigi Moutong” menjadi fokus dalam kegiatan bedah buku yang digelar Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah, di Aula Literasi Lantai 2 Gedung Layanan Perpustakaan Kabupaten Parigi Moutong, Kamis (5/11/2026). Buku tersebut merekam kehidupan sosial, tradisi, serta kearifan lokal empat suku asli yang hidup dan berkembang di Parigi Moutong, yakni Kaili, Lauke, Tialo, dan Tajio.

Karya yang ditulis bersama oleh Pardi S, Salamah, S.Pd., M.Pd., Rahmat, S.Pd., M.Pd., dan Maman Afriansah, S.Pd., itu dipandang sebagai bagian penting dari upaya mendokumentasikan kekayaan budaya daerah agar dapat dipelajari lintas generasi. Dalam sambutan Bupati Parigi Moutong yang dibacakan Staf Ahli Bidang Pemerintahan, Hukum dan Politik, Agus Salim, S.Sos., pemerintah daerah memberikan apresiasi terhadap lahirnya buku tersebut.

Ia menekankan pentingnya generasi muda mengenal budaya sendiri di tengah semakin luasnya pengaruh budaya luar. “Jangan sampai generasi kita lebih mengenal budaya luar, tetapi justru tidak mengenal sejarah, tradisi, dan kebudayaan sendiri,” demikian pesan Bupati yang disampaikan Agus Salim.

Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan melalui kegiatan seremonial. Pengetahuan mengenai adat, tradisi, dan nilai kehidupan masyarakat perlu didokumentasikan, dibaca, dipahami, kemudian diwariskan kepada generasi berikutnya.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Parigi Moutong, Syamsu Nadjamudin, S.Pd., menilai buku tersebut bukan sekadar dokumentasi, tetapi juga warisan intelektual yang dapat menjadi rujukan masyarakat dan generasi mendatang. Bedah buku berlangsung interaktif. Narasumber mengulas isi, metode penulisan, serta nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Peserta juga mendiskusikan berbagai tradisi, ritual perjalanan hidup, hingga tantangan mempertahankan kearifan lokal di tengah modernisasi.

Kegiatan turut dihadiri unsur pemerintah daerah, akademisi, tokoh adat, budayawan, guru, serta pelajar SMA dan sederajat. Kehadiran pelajar menjadi bagian penting dari kegiatan tersebut. Mereka diharapkan tidak hanya menjadi pembaca, tetapi kelak ikut mengambil peran dalam merawat dan mengembangkan warisan budaya daerah.

Para penulis juga berharap buku tersebut tidak sekadar tersimpan di rak perpustakaan. Lebih jauh, buku itu diharapkan menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk mengenal kembali identitas budaya Parigi Moutong.

Sumber: Diskominfo Parigi Moutong

error: Content is protected !!